Introduction

Selasa, 16 Juli 2013


My Lengkuas
 
    Lengkuas (Alpinia galanga) is one of the Zingiberaceae family. Based on literature study, it is known that the rhizomes contained phenolic compounds and showed various biological activities which one of them is antioxidant. The purposes of this study were to isolate the phenolic compounds from rhizomes and to know the antioxidant activity of ethyl acetate extract and methanol extract of  these rhizomes. Isolation of phenolic compounds was done by maceration method using various solvents equal n-hexane, ethyl acetate and then methanol. Ethyl acetate extracts obtained were separated using vacuum liquid chromatography followed by gravity column chromatography to get fractions of major components. Fraction obtained from the last separation was tested by FeCl3 1%. This test showed that these fractions contained phenolic compounds. This result was supported by spectrum obtained from TLC-Scanner. Test of antioxidant activity using DPPH reagent showed that ethyl acetate extracts and methanol extracts were active as an antioxidant at a concentration of 2.5 ppm to 125 ppm.

Jumat, 12 Juli 2013

PENGUJIAN KUALITATIF SENYAWA FENOL

  Senyawa Fenol  merupakan senyawa cincin karboaromatik yang tersubtitusi dengan satu gugus hidroksil atau lebih. Secara Kualitatif senyawa ini dapat dilihat dengan Uji sbb:

 1. Uji FeCl3
     Uji ini digunakan untuk mendeteksi senyawa fenol yang sederhana. Uji ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan larutan FeCl3 1% yang sudah dilarutkan di dalam air atau etanol kemudian diteteskan ke larutan sampel. Hasil yang  positif menimbulkan warna hijuau,ungu, hitam, biru dan merah.(Harbone, 1987)

2.  Folin-Ciocalteu Reagent (FCR)
    Folin-Ciocalteu Reagen (FCR) merupakan reagen yang digunakan untuk mendeteksi fenol, tetapi di dalam FCR tidak berisikan fenol. Reagen ini bereaksi dengan fenol membentuk kromogen yang dapat di deteksi secara spektrofotometri. FCR juga dapat digunakan sebagai penampak noda dalam metode kromatografi lapis tipis (sigma-aldrich.com).


Minggu, 07 Juli 2013

CHLORAMPHENICOL


   Kloramfenikol  berasal dari bakteri Streptomyces venezuelae yang diisolasi oleh David Gottlieb, dan diperkenalkan ke dalam praktek klinis pada tahun 1949, dengan nama dagang Chloromycetin. Itu merupakan antibiotik pertama yang diproduksi secara sintetis dalam skala besar.

   Kloramfenikol, juga dikenal sebagai chlornitromycin, efektif terhadap berbagai bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, termasuk organisme yang paling anaerob. Karena masalah resistensi dan keselamatan, maka tidak ada lagi adi negara maju, dengan pengecualian dari pengobatan topikal konjungtivitis bakteri. Namun demikian, masalah global memajukan resistensi bakteri terhadap obat-obat baru telah menyebabkan minat baru dalam penggunaannya. [1] Di negara-negara berpenghasilan rendah, kloramfenikol masih banyak digunakan karena murah dan tersedia.

Efek samping yang paling serius yang berhubungan dengan pengobatan kloramfenikol adalah toksisitas sumsum tulang, yang dapat terjadi dalam dua bentuk yang berbeda: penekanan sumsum tulang, yang merupakan efek toksik langsung obat dan biasanya reversibel, dan anemia aplastik, yang istimewa (jarang, tak terduga, dan tidak berhubungan dengan dosis) dan umumnya fatal. [2]
murni kloramfenikol

Selasa, 03 April 2012

Melamin

Melamin

Tahukah kalian gambar diatas itu apa? Yap, Gambar diatas adalah struktur melamin. Melamin dalam nama IUPAC nya adalah 1,3,5-triazine-2,4,6-triamin, yang mempunyai sifat larut dalam air (3,1 g/L). Jika dicampur dengan Formaldehyde menghasilkan resin melamin yang biasa digunakan untuk produksi piring, rak, gelas dan lain - lain. (pmij.us)


Melamin pertama kali disintesis oleh Liebig pada 1834. Pada produksi awal, kalsium sianamida diubah menjadi disiandiamida, kemudian dipanaskan di atas titik leburnya untuk menghasilkan melamina. Namun, pada zaman sekarang, kebanyakan pabrik industri menggunakan urea untuk menghasilkan melamina melalui reaksi berikut
6 (NH2)2CO → C3H6N6 + 6 NH3 + 3 CO2
Pertama-tama, urea terurai menjadi asam sianat pada reaksi endotermik: (NH2)2CO → HCNO + NH3. Kemudian asam sianat berpolimerisasi membentuk melamina dan karbon dioksida: 6 HCNO → C3H6N6 + 3 CO2. Reaksi kedua adalah eksotermik, namun keseluruhan proses reaksi bersifat endotermik.(wikipedia.com)

Tetapi pada saat ini melamin menjadi bahan campuran dalam susu bayi seperti yang terjadi di cina.. Hal ini dilakukan karena dalam menganalisa kadar protein menggunakan metode Kjehdahl yang akan menghasilkan kadar N total yang nantinya dikonversi kadar protein total.. Sehingga seolah-olah susu itu mempunyai kadar protein yang tinggi. 

Melamin mempunyai LD50 >3000 mg/kg berdasar data percobaan terhadap
tikus. Data dari eksperimen terhadap hewan menunjukkan melamin dapat menyebabkan terjadinya batu pada kandung kemih. Jika berkombinasi dengan asam sianurat (cyanuric acid), yang bisa juga ada dalam bubuk melamin, melamin dapat membentuk kristal yang bisa membentuk batu ginjal.
Kristal-kristal kecil ini dapat juga menutup saluran-saluran kecil di ginjal yang dapat menghentikan produksi urin sehingga menyebabkan kegagalan ginjal, dan pada beberapa kasus bisa terjadi kematian. Pada beberapa kasus melamin juga diketahui memiliki efek karsinogenik terhadap hewan eksperimen, meskipun belum ada bukti cukup tentang ini pada manusia.

Berikut ini tanda- tanda keracunan melamin Iritasi, darah dalam urin, urin sedikit atau malah tidak ada sama sekali, infeksi ginjal, tekanan darah tinggi.

Dengan demikian meskipun secara ilmiah belum terbukti efeknya terhadap manusia tapi tak ada salahnya kalau kita tetap berhati-hati...

Senin, 21 November 2011

INSEKTISIDA DAN JENISNYA

INSEKTISIDA DAN JENISNYA

Secara ringkas insektisida adalah semua bahan yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dari golongan serangga. Ada banyak sekali jenis dan merek insektisida yang beredar di pasaran. Untuk mempermudah mengenal insektisida, insektisida digolongkan menurut kriteria/batasan tertentu.

Penggolongan insektisida

  1. Pembagian menurut cara kerjanya
    1. Insektisida kontak
    2. Insektisida racun perut
    3. Insektisida racun pernafasan
    4. Insektisida sistemik
  2. Pembagian menurut asal bahan yang digunakan :
    1. Insektisida kimia sintetik, insektisida yang banyak kita kenal seperti organofosfor, karbamat, piretroid sintetik.
    2. Insektisida botani (berasal dari ekstrak tumbuhan)
      • Ekstrak sejenis bunga krisan (Chrisanthemum sp-Compositae/Asteraceae) (piretrin). Dalam kemajuannya insektisida ini telah dibuat secara sintetik dan disebut sintetik piretroid (permetrin, sipermetrin , sihalotrin dll)
      • Ekstrak biji nimba (azadirahtin- Nimbo 0,6 AS)
      • Ekstrak akar tuba (rotenon- Biocin 2 AS)
    3. Insektisida dari mikroorganisme
      • Beauveria bassiana (Bevaria P, Bassiria AS)
      • Bacllus thuringigiensis (Bactospeine WP, Thuricide HP, Turex WP).
  3. Pembagian yang umum, yang banyak digunakan adalah berdasar batasan golongan kimia dan cara kerja yang khas yaitu :
    1. Anorganik (tembaga arsenat, boraks, merkuri klorida)
    2. Organochlorine (DDT, aldrin, dieldrin, endosulfan)
    3. Organofosfor (organophosphorus)
      • Organophosphate (dicrotophos, monocrotophos, naled)
      • Organothiophosphate (phenthoate, dimethoate, omethoate, poksim, chlorpyrifos, diazinon, fenitrothion, profenofos, trichlorfon dll)
      • Phosphoramidate (fenamiphos, mephosfolan, phosfolan)
      • Phosphoramidothioate (acephat, isofenphos, methamidophos)
      • Phosphorodiamide (dimefox, mazidox)
    4. Karbamat (carbamate) (carbaryl, bendiocarb)
      • Benzofuranyl methylcarbamate (carbofuran, carbosulfan, benfuracarb)
      • Dimethylcarbamate (dimetan, dimetilan, pirimicarb)
      • Oxime carbamate (methomyl, oxamyl, thiodicarb)
      • Phenyl methylcarbamate (fenobucarb, isoprocarb, propoxur)
    5. Pyrethroid
      • Pyrethroid ester (allethrin, cyfluthrin, cyhalothrin,cypermethrin, deltamethrin, fenpropathrin, fenvalerate, fluvalinate, transfluthrin dll)
      • Pyrethroid ether (etofenprox, flufenprox)
    6. IGR (insect growth regulator)
      • Chitin synthesis inhibitor (menghambat sintesis chitin (buprofezin, cyromazin, diflubenzuron, luvenuron)
      • Moulting hormones agonist (menghambat pembentukan kepongpong) (halofenozide, tebufenozide, a-ecdysone).
      • Juvenile hormone mimic(mengganggu secara hormonal serangga tetap dalam fase larva (fenoxycarb, hydroprene, methoprene).
    7. Dinitrophenol (dinex, dinoprop, DNOC)
    8. Flourine (barium hexafluorosilicate, sodium hexafluorosilicate)
    9. Formamidine (amitraz, chlordimeform)
    10. Nereistoxin analog (cartap, bensultap, thiosultap)
    11. Nicotinoid (imidacloprid, acetamiprid, thiametoxam)
    12. Pyrazol (fipronil)
    13. Insektisida botani (lihat butir 2.b)
    14. Insektisida antibiotik (abamectin, ivermectin, spinosad)
    15. Insektisida fumigant (chloropicrin, ethylene dibromide, phosphine)
    16. Dan lain-lain (www.petrokayaku.com)


Minggu, 18 September 2011

Chlordane

Chlordane
Identifiers
CAS number 57-74-9
PubChem 5993
UNII A9RLM212CY
KEGG C14176 YesY
Jmol-3D images Image 1
Properties
Molecular formula C10H6Cl8
Molar mass 409.779 g/mol
Density 1.60 g/cm3
Melting point

106 °C

Boiling point

175 °C at 1 mmHg[1]

YesY(what is this?) (verify)
Except where noted otherwise, data are given for materials in their standard state (at 25 °C, 100 kPa)
Infobox references

Chlordane, or chlordan, is an organochlorine compound that was used as a pesticide. This white solid was sold in the U.S. until 1983 as an insecticide for crops like corn and citrus and on lawns and domestic gardens.[2]


Production and uses

Chlordane is one so-called cyclodiene pesticide, meaning that it is derived from hexachlorocyclopentadiene. Hexachlorocyclopentadiene forms an adduct with cyclopentadiene, and chlorination of this adduct give two isomers, α and β. The mixture is called chlordane. The β isomer is more bioactive.[2] It was sold in the United States from 1948 to 1988 both as a dust and an emulsified solution.

Because of concern about damage to the environment and harm to human health, the United States Environmental Protection Agency (EPA) banned all uses of chlordane in 1983 except termite control. The EPA banned all uses of chlordane in 1988. The EPA recommends that children should not drink water with more than 60 parts of chlordane per billion parts of drinking water (60 ppb) for longer than 1 day. EPA has set a limit in drinking water of 2 ppb.Origin, Pathways of Exposure, Processes of Excretion

Chlordane was a manufactured chemical, commonly used in 1948-1988, on corn and citrus crops as a pesticide, as well as a method of termite control.[3] Pathways of exposure to Chlordane include ingestion of crops grown in Chlordane contaminated soil, ingestion of high fat foods such as meat, fish, and dairy, as Chlordane builds up in fatty tissue, as well as through inhalation of air near Chlordane treated homes and landfills.[4] Chlordane is excreted slowly through feces and urine elimination, as well as through breast milk in nursing mothers and is able to cross placenta and become absorbed by developing fetus’ in pregnant women.[4][5]

Environmental impact

Being hydrophobic, chlordane adheres to soil particles and enters groundwater only slowly owing to its low solubility (0.009 ppm). It degrades only over the course of years.[6] Chlordane bioaccumulates in animals. It is highly toxic to fish, with an LD50 of 0.022–0.095 mg/kg (oral).

Health effects

Exposure to chlordane metabolites may be associated with testicular cancer. The incidence of seminoma in men with the highest blood levels of cis-nonachlor was almost double that of men with the lowest levels.[7] Prostate cancer has been associated with trans-nonachlor levels, a component of chlordane.[8] Japanese workers who used chlordane over a long period of time had minor changes in liver function.[9]

Heptachlor and chlordane are some of the most potent carcinogens tested in animal models. No human epidemiological study has been conducted to determine the relationship between levels of chlordane/heptachlor in indoor air and rates of cancer in inhabitants. However, studies have linked chlordane/heptachlor in human tissues with cancers of the breast, prostate, brain, and cancer of blood cells—leukemia and lymphoma. Breathing chlordane in indoor air is the main route of exposure for these levels in human tissues. Currently, USEPA has defined a concentration of 24 nanogram per cubic meter of air (ng/M3) for chlordane compounds over a 20-year exposure period as the concentration that will increase the probability of cancer by 1 in 1,000,000 persons. This probability of developing cancer increases to 10 in 1,000,000 persons with an exposure of 100 ng/M3 and 100 in 1,000,000 with an exposure of 1000 ng/M3 -.[10]

The non-cancer health effects of chlordane compounds (migraines, respiratory infections, diabetes, anxiety, depression, and activated immune system) may affect more people than cancer. The Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) has defined a concentration of chlordane compounds of 20 ng/M3 as the Minimal Risk Level (MRLs). ATSDR defines Minimal Risk Level as an estimate of daily human exposure to a dose of a chemical that is likely to be without an appreciable risk of adverse non-cancerous effects over a specific duration of exposure.[11]

From (www.wikipedia.com)

Sabtu, 13 Agustus 2011

GC

Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa yang bisa ditentukan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasanya. Senyawa- senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperature pengujian, utamanya pada 50-3000 C.Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperature pengujian maka senyawa tersebut bsa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas. ( Mardoni)

Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan sampel yang teruapkan, yang dibawa oleh fasa gerak yaitu aliran gas inert melewati kolom yang terisi partikel-partikel halus (kromatografi gas-padat) atau dindingnya dilapisi oleh cairan dengan keteruapan rendah (kromatografi gas-cair). Fasa bergerak yang digunakan pada GC umumnya gas yang stabil seperti helium, nitrogen. Kromatografi gas padat digunakan untuk analisis sampel cairan, gas dan padatan. Untuk sampel cair dan padat harus dapat diuapkan dengan panas tanpa terjadinya dekomposisi (Munson,1981).

Kromatografi membutuhkan fasa diam yang berperan sebagai sebagai pelarut zat, dan fase gerak yang membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat yang terlarut lainnya, yang terelusi awal atau akhir.

Sampel yang akan dianalisis diinjeksikan dengan menggunakan siring. Sampel ini masuk ke dalam injector yang berda di dalam oven. Oven ini dapat diatur suhunya. Kemudian sampel masuk ke dalam kolom. Pada Kolom terjadi pemisahan fisik komponen sampel. Efisiensi kolom kromatografi secara umum ditentukan dengan lamanya waktu tambat dan dengan jumlah pelat teori. Parameter yang mempengaruhi efisiensi kolom adalah panjang kolom, diameter kolom dan faktor kapasitas.

Pada umumnya kolom kromatografi dibagi menjadi dua yaitu kolom terpaking ( parked column) dan kolom terbuka / kapiler (capillary column) . Kolom kapiler mempunyai keunggulan antara lain kemapuan kolom kapiler memberikan harga jumlah pelat teori yang sangat besar (>300.000 pelat) dan kemapuan resolusinya yang sangat besar. ( Mulya dan Syahrani, 1991).

Daftar Pustaka :

Mardoni, Yetty Tjandrawati. 2002. PERBANDINGAN METODE KROMATOGRAFI GAS DAN BERAT JENIS PADA PENETAPAN KADAR ETANOL DALAM MINUMAN ANGGUR . Fakultas Farmasi ,USD