Introduction

Senin, 21 November 2011

INSEKTISIDA DAN JENISNYA

INSEKTISIDA DAN JENISNYA

Secara ringkas insektisida adalah semua bahan yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dari golongan serangga. Ada banyak sekali jenis dan merek insektisida yang beredar di pasaran. Untuk mempermudah mengenal insektisida, insektisida digolongkan menurut kriteria/batasan tertentu.

Penggolongan insektisida

  1. Pembagian menurut cara kerjanya
    1. Insektisida kontak
    2. Insektisida racun perut
    3. Insektisida racun pernafasan
    4. Insektisida sistemik
  2. Pembagian menurut asal bahan yang digunakan :
    1. Insektisida kimia sintetik, insektisida yang banyak kita kenal seperti organofosfor, karbamat, piretroid sintetik.
    2. Insektisida botani (berasal dari ekstrak tumbuhan)
      • Ekstrak sejenis bunga krisan (Chrisanthemum sp-Compositae/Asteraceae) (piretrin). Dalam kemajuannya insektisida ini telah dibuat secara sintetik dan disebut sintetik piretroid (permetrin, sipermetrin , sihalotrin dll)
      • Ekstrak biji nimba (azadirahtin- Nimbo 0,6 AS)
      • Ekstrak akar tuba (rotenon- Biocin 2 AS)
    3. Insektisida dari mikroorganisme
      • Beauveria bassiana (Bevaria P, Bassiria AS)
      • Bacllus thuringigiensis (Bactospeine WP, Thuricide HP, Turex WP).
  3. Pembagian yang umum, yang banyak digunakan adalah berdasar batasan golongan kimia dan cara kerja yang khas yaitu :
    1. Anorganik (tembaga arsenat, boraks, merkuri klorida)
    2. Organochlorine (DDT, aldrin, dieldrin, endosulfan)
    3. Organofosfor (organophosphorus)
      • Organophosphate (dicrotophos, monocrotophos, naled)
      • Organothiophosphate (phenthoate, dimethoate, omethoate, poksim, chlorpyrifos, diazinon, fenitrothion, profenofos, trichlorfon dll)
      • Phosphoramidate (fenamiphos, mephosfolan, phosfolan)
      • Phosphoramidothioate (acephat, isofenphos, methamidophos)
      • Phosphorodiamide (dimefox, mazidox)
    4. Karbamat (carbamate) (carbaryl, bendiocarb)
      • Benzofuranyl methylcarbamate (carbofuran, carbosulfan, benfuracarb)
      • Dimethylcarbamate (dimetan, dimetilan, pirimicarb)
      • Oxime carbamate (methomyl, oxamyl, thiodicarb)
      • Phenyl methylcarbamate (fenobucarb, isoprocarb, propoxur)
    5. Pyrethroid
      • Pyrethroid ester (allethrin, cyfluthrin, cyhalothrin,cypermethrin, deltamethrin, fenpropathrin, fenvalerate, fluvalinate, transfluthrin dll)
      • Pyrethroid ether (etofenprox, flufenprox)
    6. IGR (insect growth regulator)
      • Chitin synthesis inhibitor (menghambat sintesis chitin (buprofezin, cyromazin, diflubenzuron, luvenuron)
      • Moulting hormones agonist (menghambat pembentukan kepongpong) (halofenozide, tebufenozide, a-ecdysone).
      • Juvenile hormone mimic(mengganggu secara hormonal serangga tetap dalam fase larva (fenoxycarb, hydroprene, methoprene).
    7. Dinitrophenol (dinex, dinoprop, DNOC)
    8. Flourine (barium hexafluorosilicate, sodium hexafluorosilicate)
    9. Formamidine (amitraz, chlordimeform)
    10. Nereistoxin analog (cartap, bensultap, thiosultap)
    11. Nicotinoid (imidacloprid, acetamiprid, thiametoxam)
    12. Pyrazol (fipronil)
    13. Insektisida botani (lihat butir 2.b)
    14. Insektisida antibiotik (abamectin, ivermectin, spinosad)
    15. Insektisida fumigant (chloropicrin, ethylene dibromide, phosphine)
    16. Dan lain-lain (www.petrokayaku.com)


Minggu, 18 September 2011

Chlordane

Chlordane
Identifiers
CAS number 57-74-9
PubChem 5993
UNII A9RLM212CY
KEGG C14176 YesY
Jmol-3D images Image 1
Properties
Molecular formula C10H6Cl8
Molar mass 409.779 g/mol
Density 1.60 g/cm3
Melting point

106 °C

Boiling point

175 °C at 1 mmHg[1]

YesY(what is this?) (verify)
Except where noted otherwise, data are given for materials in their standard state (at 25 °C, 100 kPa)
Infobox references

Chlordane, or chlordan, is an organochlorine compound that was used as a pesticide. This white solid was sold in the U.S. until 1983 as an insecticide for crops like corn and citrus and on lawns and domestic gardens.[2]


Production and uses

Chlordane is one so-called cyclodiene pesticide, meaning that it is derived from hexachlorocyclopentadiene. Hexachlorocyclopentadiene forms an adduct with cyclopentadiene, and chlorination of this adduct give two isomers, α and β. The mixture is called chlordane. The β isomer is more bioactive.[2] It was sold in the United States from 1948 to 1988 both as a dust and an emulsified solution.

Because of concern about damage to the environment and harm to human health, the United States Environmental Protection Agency (EPA) banned all uses of chlordane in 1983 except termite control. The EPA banned all uses of chlordane in 1988. The EPA recommends that children should not drink water with more than 60 parts of chlordane per billion parts of drinking water (60 ppb) for longer than 1 day. EPA has set a limit in drinking water of 2 ppb.Origin, Pathways of Exposure, Processes of Excretion

Chlordane was a manufactured chemical, commonly used in 1948-1988, on corn and citrus crops as a pesticide, as well as a method of termite control.[3] Pathways of exposure to Chlordane include ingestion of crops grown in Chlordane contaminated soil, ingestion of high fat foods such as meat, fish, and dairy, as Chlordane builds up in fatty tissue, as well as through inhalation of air near Chlordane treated homes and landfills.[4] Chlordane is excreted slowly through feces and urine elimination, as well as through breast milk in nursing mothers and is able to cross placenta and become absorbed by developing fetus’ in pregnant women.[4][5]

Environmental impact

Being hydrophobic, chlordane adheres to soil particles and enters groundwater only slowly owing to its low solubility (0.009 ppm). It degrades only over the course of years.[6] Chlordane bioaccumulates in animals. It is highly toxic to fish, with an LD50 of 0.022–0.095 mg/kg (oral).

Health effects

Exposure to chlordane metabolites may be associated with testicular cancer. The incidence of seminoma in men with the highest blood levels of cis-nonachlor was almost double that of men with the lowest levels.[7] Prostate cancer has been associated with trans-nonachlor levels, a component of chlordane.[8] Japanese workers who used chlordane over a long period of time had minor changes in liver function.[9]

Heptachlor and chlordane are some of the most potent carcinogens tested in animal models. No human epidemiological study has been conducted to determine the relationship between levels of chlordane/heptachlor in indoor air and rates of cancer in inhabitants. However, studies have linked chlordane/heptachlor in human tissues with cancers of the breast, prostate, brain, and cancer of blood cells—leukemia and lymphoma. Breathing chlordane in indoor air is the main route of exposure for these levels in human tissues. Currently, USEPA has defined a concentration of 24 nanogram per cubic meter of air (ng/M3) for chlordane compounds over a 20-year exposure period as the concentration that will increase the probability of cancer by 1 in 1,000,000 persons. This probability of developing cancer increases to 10 in 1,000,000 persons with an exposure of 100 ng/M3 and 100 in 1,000,000 with an exposure of 1000 ng/M3 -.[10]

The non-cancer health effects of chlordane compounds (migraines, respiratory infections, diabetes, anxiety, depression, and activated immune system) may affect more people than cancer. The Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR) has defined a concentration of chlordane compounds of 20 ng/M3 as the Minimal Risk Level (MRLs). ATSDR defines Minimal Risk Level as an estimate of daily human exposure to a dose of a chemical that is likely to be without an appreciable risk of adverse non-cancerous effects over a specific duration of exposure.[11]

From (www.wikipedia.com)

Sabtu, 13 Agustus 2011

GC

Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa yang bisa ditentukan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasanya. Senyawa- senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperature pengujian, utamanya pada 50-3000 C.Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperature pengujian maka senyawa tersebut bsa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas. ( Mardoni)

Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan sampel yang teruapkan, yang dibawa oleh fasa gerak yaitu aliran gas inert melewati kolom yang terisi partikel-partikel halus (kromatografi gas-padat) atau dindingnya dilapisi oleh cairan dengan keteruapan rendah (kromatografi gas-cair). Fasa bergerak yang digunakan pada GC umumnya gas yang stabil seperti helium, nitrogen. Kromatografi gas padat digunakan untuk analisis sampel cairan, gas dan padatan. Untuk sampel cair dan padat harus dapat diuapkan dengan panas tanpa terjadinya dekomposisi (Munson,1981).

Kromatografi membutuhkan fasa diam yang berperan sebagai sebagai pelarut zat, dan fase gerak yang membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat yang terlarut lainnya, yang terelusi awal atau akhir.

Sampel yang akan dianalisis diinjeksikan dengan menggunakan siring. Sampel ini masuk ke dalam injector yang berda di dalam oven. Oven ini dapat diatur suhunya. Kemudian sampel masuk ke dalam kolom. Pada Kolom terjadi pemisahan fisik komponen sampel. Efisiensi kolom kromatografi secara umum ditentukan dengan lamanya waktu tambat dan dengan jumlah pelat teori. Parameter yang mempengaruhi efisiensi kolom adalah panjang kolom, diameter kolom dan faktor kapasitas.

Pada umumnya kolom kromatografi dibagi menjadi dua yaitu kolom terpaking ( parked column) dan kolom terbuka / kapiler (capillary column) . Kolom kapiler mempunyai keunggulan antara lain kemapuan kolom kapiler memberikan harga jumlah pelat teori yang sangat besar (>300.000 pelat) dan kemapuan resolusinya yang sangat besar. ( Mulya dan Syahrani, 1991).

Daftar Pustaka :

Mardoni, Yetty Tjandrawati. 2002. PERBANDINGAN METODE KROMATOGRAFI GAS DAN BERAT JENIS PADA PENETAPAN KADAR ETANOL DALAM MINUMAN ANGGUR . Fakultas Farmasi ,USD




Selasa, 26 Juli 2011

ICP MS

The Principles of ICP-MS


ICP-MS performs multi-elemental analysis with excellent sensitivity and high sample throughput. The ICP-MS instrument employs a plasma (ICP) as the ionization source and a mass spectrometer (MS) analyzer to detect the ions produced. It can simultaneously measure most elements in the periodic table and determine analyte concentration down to the sub nanogram-per-liter (ng/l) or part-per trillion (ppt) level. It can perform qualitative, semiquantitative, and quantitative analysis, and since it employs a mass analyzer, it can also measure isotopic ratios.


Figure 1. Agilent ICP-MS Block Diagram


The Plasma as an Ionization Source
In general, liquid samples are introduced by a peristaltic pump, to the nebulizer where the sample aerosol is formed. A double-pass spray chamber ensures that a consistent aerosol is introduced into the plasma. Argon (Ar) gas is introduced through a series of concentric quartz tubes which form the ICP. The torch is located in the center of an RF coil, through which RF energy is passed. The intense RF field causes collisions between the Ar atoms, generating a high-energy plasma. The sample aerosol is instantaneously decomposed in the plasma (plasma temperature is in the order of 6000 - 10000 K) to form analyte atoms which are simultaneously ionized. The ions produced are extracted from the plasma into the mass spectrometer region which is held at high vacuum (typically 10-4 Pa). The vacuum is maintained by differential pumping: the analyte ions are extracted through a pair of orifices, known as the sampling and skimmer cones.

Quadrupole Mass Analyzer
The analyte ions are then focused by a series of ion lenses into a quadrupole mass analyzer, which separates the ions based on their mass/charge ratio. The term quadrupole is used since the mass analyzer is essentially consists of four parallel stainless steel rods to which a combination of RF and DC voltages are applied. The combination of these voltages allows the analyzer to transmit only ions of a specific mass/charge ratio.

Detector
Finally, the ions are measured using an electron multiplier, and are collected by a counter for each mass number.

Mass Spectrum
The mass spectrum generated is extremely simple. Each elemental isotope appears at a different mass (e.g. 27Al would appear at 27 amu) with a peak intensity directly proportional to the initial concentration of that isotope in the sample solution. A large number of elements ranging from Lithium (Li) at low mass to Uranium (U) at high mass are simultaneously analyzed typically within 1-3 minutes. With ICP-MS, a wide range of elements in concentration levels from ppt to ppm level can be measured in a single analysis.


Figure 2. ICP-MS Spectrum of Riverine Water


Applications
The ICP-MS is widely used in many industries including semiconductor, environmental, geological, chemical, nuclear, clinical, and research laboratories, as a key analytical tool for the determination of trace level elements.


Sumber : http://www.chem.agilent.com/en-US/Products/Instruments/atomicspectroscopy/icp-ms/pages/gp455.aspx

Minggu, 24 Juli 2011

Patulin

Patulin

Patulin is a toxic fungal metabolite (mycotoxin) produced by certain moulds of the genera Penicillium, Aspergillus and Byssochlamys growing on certain food commodities, especially fruit. Patulin exhibits a number of toxic effects in animals and its presence in food is undesirable.

Chemically, patulin is a polyketide lactone. It is a relatively small molecule (C7H6O4) and is soluble in water.

Patulin[1]
Identifiers
CAS number 149-29-1 YesY
PubChem 4696
ChemSpider 4534 YesY
EC number 205-735-2
KEGG C16748 N
ChEMBL CHEMBL294018 YesY
Jmol-3D images Image 1
Properties
Molecular formula C7H6O4
Molar mass 154.12 g mol−1
Appearance Compact prisms
Melting point

110 °C, 383 K, 230 °F

Solubility in water Soluble
(what is this?) (verify)
Except where noted otherwise, data are given for materials in their standard state (at 25 °C, 100 kPa)
N
Infobox references

Sumber : Wikepedia dan http://www.foodsafetywatch.com/public/506.cfm

Kamis, 14 Juli 2011

Cara Menghilangkan Racun Rokok dari Tubuh

Cara Menghilangkan Racun Rokok dari Tubuh


Merokok selama ini dikenal sebagai kebiasaan yang tidak sehat karena memaparkan banyak zat adiktif dan racun ke dalam tubuh. Meroko juga termasuk polusi yang bisa menyebabkan kesehatan seseorang memburuk dari waktu ke waktu. Karbon monoksida dan tar dalam rokok juga dapat merusak tubuh manusia.

Karbon monoksida merusak sel sehat dengan mencegah oksigen berperan mengisi dan menyembuhkan. Adapun tar pada rokok dapat melapisi paru-paru, membuat orang lebih rentan terhadap penyakit pernapasan seperti emphysema dan bronkitis.


Tak hanya perokok, bahaya ini juga berlaku bagi mereka yang sering terpapar asap rokok. Mau membersihkan diri Anda dari paparan nikotin? Berikut caranya:

1. Pertama, jika Anda merokok, berhentilah.


Bila serius ingin mendetoksifikasi tubuh dari racun nikotin, Anda seharusnya mempertimbangkan segala cara yang diperlukan untuk berhenti merokok. Ada beberapa cara berhenti merokok, bisa melalui terapi, permen, atau hipnosis.


2. Minum banyak air.


Ini akan membantu untuk mengelurkan racun dan nikotin yang telah terakumulasi dalam tubuh Anda setelah bertahun-tahun merokok.


3. Makanlah makanan yang kaya serat untuk membersihkan perut dan sistem pencernaan.


Nikotin mungkin telah melemahkan sistem ekskretoris yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan limbah dari tubuh. Mengonsumsi serat akan memungkinkan Anda untuk memiliki gerakan usus rutin yang akan membersihkan sistem metabolisme tubuh.


4. Mempertahankan pola makan sehat yang meliputi banyak buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan makanan kaya antioksidan seperti buah beri.


Hindari alkohol, soda, kafein dan makanan yang digoreng. Mengonsumsi gizi dan makanan kaya antioksidan akan membantu memperbaiki kerusakan sel yang disebabkan oleh karbon monoksida dalam rokok.


5. Memperkuat paru-paru dengan melakukan latihan pernapasan setiap hari.


Duduklah di tempat yang tenang dan nyaman. Buat tubuh rileks dan tarik napas panjang melalui hidung dan hembuskan napas melalui mulut selama sekitar 5-10 menit.

sumber : (www.adipedia.com)

Rabu, 13 Juli 2011

Bahaya Minuman Soda

Bahaya Minuman Bersoda


» Minuman bersoda


Ketika kita merasa haus, banyak di antara kita melepas dahaga dengan sebotol soda dingin. Namun tahukah Anda, minuman berkarbonasi ini adalah salah satu minuman terburuk selain minuman beralkohol? Anda bisa kecanduan kafein dalam soda. Belum lagi kandungan gula yang sangat tinggi.

Ada 10 efek berbahaya minuman bersoda bagi tubuh, seperti dikutip dari Method of Healing.

1. Menaikkan berat badan
Minum satu kaleng soda tiap hari dalam sebulan akan menaikkan berat badan sebanyak setengah kilogram.

2. Tidak ada nilai gizi dalam soda
Saat kehausan atau setelah berpuasa, tubuh membutuhkan cairan yang bernutrisi. Sedangkan soda tak memiliki nilai gizi di dalamnya. Minuman ini hanya akan menjadi 'limbah' dalam tubuh.

3. Meningkatkan risiko diabetes
Tingginya kadar gula dalam soda mampu meningkatkan risiko Anda terkena diabetes.

4.Soda dapat menyebabkan osteoporosis
Bila meminum soda dengan kandungan kalsium rendah, Anda bisa terkena keropos tulang atau osteoporosis.

5. Soda merusak gigi
Kandungan senyawa soda mengikis dan merusakkan lapisan enamel gigi. Sehingga gigi mudah berlubang dan rusak.

6. Soda dikaitkan dengan kerusakan ginjal
Orang yang minum soda berisiko lebih besar terkena batu ginjal serta kerusakan pada ginjal.

7. Memicu penyakit maag
Soda menjadikan peminumnya berpeluang lebih besar terkena dan memperparah penyakit maag.

8. Soda menimbulkan dehidrasi
Kadar kafein dan gula dalam soda dapat menyebabkan tubuh dehidrasi.

9. Soda mengacaukan sistem pencernaan
Asam dalam soda tidak bereaksi dengan baik dengan sistem pencernaan.

10. Diet soda berbahaya
Soda diet mengandung pemanis buatan aspartam yang diakitkan dengan beberapa gangguan seperti fenilketonuria.

Alternatif Sehat Pengganti Soda

Lantas apa yang bisa membantu melepas ketergantungan terhadap soda? Melihat nilai gizi, jus merupakan pilihan minuman terbaik. Sedangkan air merupakan minuman terbaik agar tubuh tetap terhidrasi. Satu hingga dua gelas jus buah setiap hari serta enam gelas air putih serta minuman yang diperkaya kalsium adalah paduan terbaik untuk kesehatan.(Viva News.Com, Petti Lubis, Anda Nurlaila , 13072011))

SO Usahakan hindari minuman yang bersoda....Lebih baik mencegah daripada mengobati

Selasa, 12 Juli 2011

Buah DUWET / JUWET yang Kaya Akan Antioksidan

Buah DUWET / JUWET yang Kaya Akan Antioksidan



Siapa yang PERNAH melihat buah yang ada di atas gambar ini?Yup buah ini biasa disebut buah duwet atau JUWET di daerah asalku LA CITY. Buah kecil-kecil berwarna ungu ini sekarang agak sulit ditemui. Dulu, duwet banyak dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga murah dan disukai anak-anak.
BIASANYA sebelum dimakan dikocok dulu dengan campuran garam di dalam panci. Rasanya ramai sekali: manis, sedikit asam, sedikit sepat, dan segar. Sesudah makan biasanya mulut dan lidah jadi berwarna ungu dan itulah salah satu daya tariknya bagi anak-anak. Meskipun bentuk, ukuran, dan warnanya lebih mirip dengan buah anggur, entah kenapa dalam bahasa Inggris dinamakan java plum (Tropical Fruits of Indonesia, 2000). Mungkin karena sama-sama berbiji satu.


Di beberapa daerah lain di Indonesia, orang mengenal buah ini dengan nama jamblang, juwet, atau jambolan. Sebenarnya ada jenis yang berwarna putih, yang dikenal dengan nama duwet putih, namun lebih jarang ditemui dan kurang populer walaupun rasanya lebih manis, lebih segar, dan kurang sepat.

Pada umumnya orang hanya mengenal buah duwet ungu saja sehingga bila menyebutkan buah duwet biasanya yang dimaksud adalah buah duwet ungu. Pohonnya biasanya tumbuh liar di ladang, pekarangan rumah, lereng gunung, bahkan tidak jarang di kuburan. Dalam buku Flora disebutkan, pohon ini tumbuh di bawah 300 m dpl.

Buah duwet (Syzygium cumini) masih satu famili dengan jambu air dan cengkeh (Myrtaceae). Pohonnya tinggi, bisa mencapai 10-20 m, dan kayunya baik digunakan sebagai bahan bangunan. Ini yang menyebabkan orang sering kali lebih suka menebang pohon tersebut untuk diambil kayunya karena buahnya kurang mempunyai nilai ekonomi. Untuk memanennya, orang harus memanjat dan membawa galah yang berkantong karena kalau jatuh ke tanah buahnya mudah hancur.

Aktivitas antioksidan
Buah duwet ternyata mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. Bila dibandingkan, aktivitasnya hampir setara dengan BHT-antioksidan sintetik-yang umum digunakan saat ini. Besar kemungkinan hal ini disebabkan oleh warna ungu/pigmen ungu dalam buah tersebut yang dikenal dengan nama antosianin.

Aktivitas antioksidan buah duwet dipengaruhi oleh tahapan kematangannya. Buah mentah yang berwarna hijau aktivitas antioksidannya rendah, buah hampir masak yang berwarna merah dan masih keras aktivitas antioksidannya meningkat, dan buah masak yang berwarna ungu aktivitas antioksidannya paling tinggi. Oleh sebab itu, buah duwet memang sebaiknya dikonsumsi pada saat sudah masak, namun sebaiknya pada saat masih segar. Begitu kurang segar, aktivitas antioksidannya menurun tajam.

Belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap buah ini, mungkin karena nilai ekonominya rendah dan sulit memperoleh sampel memadai. Padahal, sebenarnya buah ini mempunyai potensi yang baik sebagai sumber antioksidan alami, rasanya sudah dapat diterima oleh masyarakat, aman, dan sebagai buah bisa dikonsumsi dalam jumlah cukup banyak sehingga bisa berkontribusi terhadap kesehatan.

Dibandingkan rempah-rempah-yang aktivitas antioksidannya tinggi-namun biasanya hanya dikonsumsi dalam jumlah sedikit; atau dibandingkan antioksidan sintetik-yang aktivitas antioksidannya tinggi-namun sering diragukan keamanannya; maka buah berwarna ungu ini cukup potensial sebagai sumber antioksidan yang aman.

Peran antioksidan
Antioksidan dipercaya mempunyai peran penting terhadap kesehatan, khususnya dalam mencegah dan memerangi penyakit-penyakit degeneratif, seperti CHD (coronary heart disease) dan kanker. Sebelumnya para ilmuwan percaya bahwa konsumsi buah dan sayur dapat menurunkan risiko kanker karena buah dan sayur banyak mengandung antioksidan vitamin, seperti vitamin C (asam askorbat), vitamin E (tokoferol), dan beta karoten (provitamin A).

Namun, studi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada senyawa lain dalam buah dan sayur yang menurunkan risiko kanker, yaitu polifenol. Polifenol bisa bekerja dengan beberapa cara untuk mencegah kanker, misalnya dengan memblok karsinogen, sebagai antioksidan, menyapu radikal bebas, antiproliferasi, maupun antiprogresi. Polifenol meliputi beberapa golongan senyawa, termasuk di antaranya flavonoid dan salah satu anggotanya adalah antosianin.

Antosianin sebagai penyebab warna ungu pada buah duwet sebelum ini hanya dikenal sebagai pigmen yang berfungsi untuk menarik serangga agar membantu penyerbukan maupun penyebaran biji. Pigmen ini terdapat luas pada tanaman, umumnya pada bunga dan buah, dengan variasi warna merah, ungu, biru, sampai jingga, misalnya pada stroberi, murbei, markisa, dan blueberry. Antosianin larut dalam air sehingga memudahkan inkorporasi ke dalam bahan pangan.

Prior dan Cao (2000) juga melaporkan bahwa antosianin termasuk dalam kelompok senyawa flavonoid yang selama ini belum banyak mendapat perhatian dalam kaitannya dengan gizi manusia.

Aktivitas antioksidan antosianin terlihat baik pada buah berantosianin maupun pada antosianin murni. Beberapa jenis antosianin bahkan mempunyai aktivitas antioksidan dua kali lipat dibandingkan antioksidan komersial yang sudah banyak dikenal selama ini, seperti katekin dan alfa-tokoferol.

Jadi, warna merah keunguan pada buah duwet yang disukai anak-anak itu besar manfaatnya untuk kesehatan sehingga tidak mengherankan bila mereka biasanya sehat dan berenergi. Untuk penerapan secara lebih luas di masa mendatang, buah ini bisa diolah menjadi sari buah/ jus, bisa juga dibuat menjadi selai untuk pengisi donat, atau untuk mempercantik penampilan serta menambah cita rasa pada es krim dan yoghurt.

Dengan demikian, duwet tidak hanya dapat meningkatkan derajat kesehatan, tetapi juga menambah khazanah makanan fungsional/ makanan kesehatan yang populer akhir-akhir ini.

Lydia Ninan Lestario Staf Pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Peserta Program Doktor pada Program Studi Ilmu Pangan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
http://www.flobamor.com/forum/pengetahuan-kesehatan/3861-obat-tradisional-indonesia.html#post5026

Minggu, 10 Juli 2011

TANAMAN PENDETEKSI BOM

TANAMAN PENDETEKSI BOM


Mungkin ga asing lagi bagi kita dengan kata bom...bom bom dan bom yang hampir tiap tahun ada di INDONESIA...tidak perlu takut...ada info menarik ni dari..... ilmuwan di Colorado State University mengembangkan cara agar tanaman yang biasa kita dijumpai sehari-hari dapat mendeteksi adanya bom.

Mereka terus melakukan penelitian bagaimana agar tanaman hijau berubah warna menjadi putih ketika ada bom atau senjata biologi dan kimia di sekitar kita.

Bayangkan, bila seseorang berjalan melewati tanaman tersebut di bandara udara dengan membawa bom secara tersembunyi, lalu warna tenaman berubah. Itulah saatnya pihak keamanan dipanggil.

Tanaman pendeteksi bom
Profesor June Medford dan rekan-rekanya dari Colorado State University kini tengah mengembangkan cara tersebut bersama Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Nantinya, tanaman pendeteksi bom itu akan ditempatkan di bandara udara maupun tempat keramaian lainnya.

“Yang kami lakukan adalah memodifikasi bibitnya,” kata Medford. “Ini akan menjadi sifat bawaan tanaman yang stabil dan akan terus bertahan.”

Ide tersebut untuk sementara ini seperti sebuah kisah fiksi. Tapi Medford bersikeras bahwa mendeteksi bahan kimia dengan tanaman adalah hal yang masuk akal.

Dia mencontohkan buah pisang. Saat dipetik warnanya hijau. Pisang itu, jika di daerah bersuhu dingin, tidak akan cepat matang kecuali diberi gas ethylene.

Nah, itu yang menginspirasi tim pimpinan Medford. Ia memodifikasi bibit tanaman agar bereaksi saat terkena gas kimiawi. Warna tanaman berubahd dari hijau menjadi putih.

“Tanamannya bisa apa saja. Tak ada yang khusus,” kata Medford. “Kelebihan tanaman adalah mereka tidak akan pernah takut atau lari bila ada ancaman bom.”



Source: http://tempointeraktif.com/hg/iptek/2011/02/16/brk,20110216-313712,id.html

Senin, 04 Juli 2011

Pisang

Mengatasi dan Mengobati Nyeri Leher dengan Makan Pisang

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel khasiat buah pisang...
Sering mengalami nyeri otot Makan saja buah PISANG. Mengapa Harus buah Pisang???

Kandungan mineral kalium yang tinggi dalam pisang diketahui bisa mengembalikan keseimbangan elektrolit dan mengurangi kontraksi otot yang menyakitkan. Selain itu pisang diketahui mengandung kadar lemak dan kolesterol yang rendah serta tinggi vitamin dan mineral.

Mengonsumsi buah pisang yang dikombinasikan dengan istirahat serta konsumsi cairan yang tepat bisa menjadi obat yang sederhana dan efektif untuk mengatasi beberapa jenis sakit atau nyeri pada leher, seperti dikutip dari Livestrong, Rabu (29/6/2011).

Sakit atau nyeri pada leher seringkali disebabkan oleh ketegangan otot akibat cedera, menghabiskan waktu lama di depan komputer atau menyetir. Selain itu tekanan pada saraf yang terletak di leher juga bisa menimbulkan rasa sakit.

Rendahnya kadar mineral tertentu di dalam tubuh terutama kalium atau kalsium bisa memicu terjadinya otot kejang. Efek ini akan menjadi lebih buruk terasa ketika seseorang mengalami dehidrasi di saat yang bersamaan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kram dan nyeri otot leher adalah meningkatkan konsumsi makanan yang kaya akan kalium. Makanan ini meliputi buah pisang, jus jeruk, tomat, kismis atau kentang yang dipanggang bersama kulitnya.

Sebuah pisang ukuran sedang diketahui memiliki kandungan kalium sebanyak 422 mg, dan tingkat asupan harian dari kalium untuk orang dewasa sekitar 4.700 mg sedangkan bagi atlet asupannya lebih tinggi lagi karena untuk menghindari nyeri otot.

Tapi jika rasa sakit atau nyeri di leher tidak juga berkurang atau justru menjadi lebih buruk, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Karena bisa jadi nyeri yang muncul bukan akibat otot yang tegang, melainkan sebagai gejala dari masalah kesehatan yang lebih serius terutama jika rasa nyeri semakin menyebar ke lengan atau bahu.

Source: http://www.adipedia.com 04072011

Rabu, 29 Juni 2011

Aflatoksin

Aflatoksin

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan.

Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama "afla" diambil) dan A. parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau bunga matahari), rempah-rempahketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Praktis semua produk pertanian dapat mengandung aflatoksin meskipun biasanya masih pada kadar toleransi. Kapang ini biasanya tumbuh pada penyimpanan yang tidak memperhatikan faktor kelembaban (min. 7%) dan bertemperatur tinggi. Daerah tropis merupakan tempat berkembang biak paling ideal.

Toksin ini memiliki paling tidak 13 varian, yang terpenting adalah B1, B2, G1, G2, M1, dan M2. Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1 dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang kanker, terutama kanker hati. Serangan toksin yang paling ringan adalah lecet (iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan, penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrien. Toksin ini di hatiepoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di dalam sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat dan mengganggu kerja gen. akan direaksi menjadi

Pemanasan hingga 250 derajat Celsius tidak efektif menginaktifkan senyawa ini. Akibatnya bahan pangan yang terkontaminasi biasanya tidak dapat dikonsumsi. (www.wikipedia.com)

UNTUK PENGENDALIAN KONTAMINASI AFLATOKSIN PADA KACANG TANAH

1. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat masak optimum (umur antara 90 – 100 hari, tergantung varietasnya) atau dengan kriteria minimal 75% polong telah terbentuk per tanaman, dan bagian kulit dalam telah berwarna gelap.
2. Segera melakukan perontokan. Cara manual (dipetik) memberi risiko kecil untuk polong rusak/luka meskikapasitasnya rendah (8-10 kg/jam/orang).
3. Polong kacang tanah harus segera dikeringkan (< 48 jam) sampai kadar air <10 % ditandai dengan ringannya polong dan nyaringnya bunyi biji bila polong dikocok, agar aman dari risiko kontaminasi aflatoksin. Pada musim kemarau, kadar air tersebut dapat dicapai dengan pengeringan 3 hari di atas lantai jemur, namun menjadi lebih lama bila pemanenan jatuh pada musim hujan. Untuk mengatasinya, dapat digunakan alat pengering tipe bak yang kapasitasnya 500 kg polong basah, dengan suhu pengeringan 50°C selama 12 jam. Agar proses pengeringan berjalan dengan baik, polong kacang tanah tersebut harus diaduk/dibalik setiap 2 jam untuk
meratakan suhunya. Namun, alat ini kurang ekonomis untuk petani perorangan karena biayanya relatif mahal, sehingga lebih sesuai untuk pedagang pengumpul/besar.
4. Pengupasan polong harus semaksimal mungkin menghindari rusaknya polong. Pisahkan polong yang muda, keriput, busuk, dan luka atau rusak dari polong yang baik untuk mencegah kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah lainnya.
5. Agar aman disimpan, kadar air kacang tanah harus < 9% untuk polong dan < 7% untuk biji. Oleh karena itu, penyimpanan sebaiknya dilakukan pada kondisi ruang penyimpan yang sejuk (suhu 27°C) dan kering (kelembaban nisbi 56-70%) dengan menggunakan bahan pengemas kedap udara dan diletakkan secara bertumpuk di atas rak-rak kayu serta diberi jarak dengan dinding. Untuk skala besar, penyimpanan biji kacang tanah (kadar air 8%) dalam karung goni yang dirangkap dengan kantong plastik polietilen tipis dilaporkan efektif sampai 6 bulan dengan kadar aflatoksin 16,8 ppb.
(BPOM)